Berita
dakwah

Halal bi Halal Tradisi Khas Indonesia, Muhammadiyah Pelopori Kemodernannya

H
PCM Duren Sawit 1
08 Juni 2026
2 menit baca
254 kata
Halal bi Halal Tradisi Khas Indonesia, Muhammadiyah Pelopori Kemodernannya
Setelah pelaksanaan Salat Idulfitri, umat muslim Indonesia merayakan kegembiraan dengan berbagai ekspresi salah satunya dengan bersilaturahmi atau yang umum disebut dengan halal bihalal atau syawalan, atau istilah yang lebih dahulu ada di Jawa yaitu pisowanan. Meski tidak melekat sebagai ibadah khusus pada awal Bulan Syawal – terkadang sampai akhir bulan, tapi agenda silaturahmi pasca Idulfitri tetap dilakukan baik secara individu dengan cara mendatangi rumah sanak keluarga, tetangga, sampai keluarga yang jauh dari rumah, pun dengan silaturahim berkelompok dikemas pengajian atau makan-makan. Lebih khusus di Jawa, Pemerhati Sejarah Muhammadiyah yang juga Anggota Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi merujuk Ahmad Baso menyebut, tradisi keagamaan silaturahim yang dikemas secara formal telah ada sejak 1700 an di Daerah Cirebon. Pada masa selanjutnya, tradisi ini masih terus berlangsung dan mengalami pemodernan tata cara. Misalnya, ditemukan rubrik khusus dalam Soeara Moehammadijah No. 5 Tahun 1924 yang diperuntukkan bagi pembaca yang ingin menyampaikan ucapan permohonan maaf sekaligus menyambung silaturahmi antar anggota melalui media massa. Di situ menggunakan istilah Alal Bahalal. Ghifari menyebut Suara Muhammadiyah (SM) memodernisasi cara umat Islam khususnya warga Muhammadiyah dalam bersilaturahmi. “Kita sebenarnya memulai tapi pada aspek sisi kemajuan dan modernitas, yang ditunjukkan oleh Muhammadiyah adalah seiring dengan berkembangnya literasi melalui pers islam, yakni Suara Muhammadiyah sebagai pers tertua”. Pada 1924 menjadi tonggak sejarah yang perlu diingat, sebab muncul cara baru seorang muslim dalam menyampaikan salam, permohonan maaf, dan menjalin silaturahmi melalui platform media massa modern yang saat itu Majalah SM. Dalam konteks awal abad 20, majalah merupakan media massa yang sangat modern di tengah kolonialisme.